Hsdpa adalah

Kamis, 12 Maret 2009
Posted by gara

Pernah dengar yang namanya HSDPA? Sebutan ini mulai sering muncul setelah 3G dapat dinikmati di tanah air. HSDPA merupakan kependekan dari High Speed Downlink Packet Access. Nama lainnya; 3,5G. Teknologi ini merupakan anggota keluarga HSPA (High Speed Packet Access). Sekedar informasi, HSPA merupakan salah satu protokol telepon selular yang merupakan hasil dari pengembangan teknologi 3G gelombang pertama, Release 99 (R99). Yang namanya pengembangan, tentulah berbagai kekurangan dan kelemahan akan mengalami penyempurnaan. Alhasil, HSDPA mampu bekerja jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan koneksi R99. Kalau mau dibandingkan dengan jaringan CDMA, HSDPA dapat disejajarkan dengan EV-DO (evolution data optimized) yang merupakan perkembangan dari CDMA2000.


Apa yang membuat julukan 3,5G melekat pada HSDPA? Jawabannya adalah top speed. Pada awal gembar-gembor teknologi 3G, kecepatan maksimal yang mampu diperoleh adalah 384 kilobyte per detik. Mengacu pada keterangan John Leonard, VP Business Strategy pada Lucent Technologies, kecepatan efektif R99 sebenarnya ada di kisaran 150 sampai 250 kbps. Bandingkan dengan HSDPA yang dapat diajak ngebut sampai 400 hingga 600 kbps. Jangan salah, angka barusan merupakan kecepatan efektif. Sedangkan peak rate ada di kisaran 1,8 Mbps.


Tingkat speed yang tinggi pada HSDPA merupakan hasil dari cara kerja sang teknologi yang berbeda jika dibandingkan dengan pendahulunya. Pada 3G, handset akan melakukan konfirmasi pada saat menerima data dan melakukan komunikasi mengenai informasi-informasi tersebut kepada network. Untuk melakukan aktivitas ini, diperlukan sistem Radio Networks Control (RNC). Sedangkan HSDPA memangkas sistem RNC tersebut. Proses komunikasi mengenai informasi dikirimkan langsung ke stasiun pusat. Keuntungannya? Tanpa proses kerja yang rumit, data dan respon akan terproses lebih cepat.


HSDPA menawarkan berbagai kebaikan yang bisa diperoleh dari sebuah teknologi. Tak hanya urusan kecepatan yang menjadi lebih baik, perkara kualitas pun tak luput dari pembenahan. Hal ini terbukti dari uji coba yang dilakukan Lucent Technologies terhadap sebuah video klip. Dengan menggunakan R99, video tersebut muncul dengan gambar yang patah-patah dan tak jelas. Sedangkan melalui jalur HSDPA, gambar muncul dengan kualitas DVD. Tak perlu heran, sebab jalur yang dilewati High Speed Downlink Packet Access tersebut memang memberikan angka kecepatan yang super besar.


Jangankan peningkatan kualitas, penghematan waktupun dapat dipastikan diperoleh lewat jaringan 3,5G ini. Sembilan video klip dapat diperoleh dalam waktu yang bersamaan. Padahal dalam tenggat waktu yang serupa, hanya satu video klip yang bisa diperoleh jika menggunakan jalur R99.


Lantas dengan munculnya HSDPA, apa yang akan terjadi pada UMTS? Apakah akan ditinggalkan? Tampaknya, tak ada kemungkinan UMTS akan ditelantarkan layaknya apa yang pernah terjadi pada EGDE beberapa waktu lalu. Sebab, jika ditilik dari teknologi yang tersedia, UMTS mampu mendukung jaringan yang dibutuhkan oleh HSDPA. Kasarnya, untuk membuat sebuah teknologi 3G menjadi 3,5G tidak dibutuhkan persyaratan yang super rumit. Tidak dibutuhkan pula pembangunan infrastruktur yang benar-benar baru. Tinggal poles di sana dan tambahkan sedikit ini di sini, maka jadilah sebuah jaringan yang mampu mendukung teknologi High Speed Downlink Packet Access.


Pihak operator Indonesia pun tampaknya senang-senang saja dengan tiadanya kerumitan dalam mengupgrade teknologi untuk melayani jaringan 3,5G. Buktinya, saat ini beberapa operator yang sudah memiliki Node B yang merupakan BTS 3G, tak lupa turut menyertakan HSDPA untuk diakses pelanggannya. Bahkan sampai saat ini pun tampaknya konsentrasi target dan investasi perusahaan penyedia jaringan selular masih terpusat pada 3G. Operator masih berlomba untuk memperbanyak jumlah Node B dan memperbesar area cakupan. Tak hanya di ibukota, tapi juga diseluruh pelosok nusantara. Edukasi pun masih mengarah pada fitur-fitur berbasis 3G dan pengenalan kepada masyarakat apa itu teknologi komunikasi generasi ketiga beserta hal-hal yang dapat dilakukan dengan teknologi tersebut.


Menilik pada keadaan yang ada di Indonesia, tak diperlukan perhatian berlebih untuk mengembangkan HSDPA. Mengingat waktu sampai ke tanah air yang nyaris berbarengan dengan 3G, serta basis teknologi yang tak membutuhkan banyak investasi, tentunya proses pengenalan ke masyarakat bisa dilakukan berbarengan dengan proses edukasi 3G. Apalagi layanan 3,5G memiliki persenjataan yang jauh lebih mumpuni. Bisa jadi, pihak operator menunggu satu permasalahan teratasi terlebih dahulu, yaitu persoalan handset.


Hape-hape yang mampu melayani jaringan HSDPA belum banyak terlihat di pasaran. Merupakan hal yang sia-sia untuk melakukan promosi ke pasar. Padahal baru segelintir masyarakat yang memiliki handset pendukung. Tapi sepertinya proses tersebut tak akan memakan waktu lama. Sebab, saat ini justru para vendor yang giat mempromosikan hape-hape berjaringan HSDPA miliknya. Lagipula, tidak ada resiko bila perangkat selular 3,5G tersebut tak terlalu merebut perhatian pasar. Sebab, hape dengan kualifikasi HSDPA juga dapat dipergunakan untuk bekerja sebagai hape 3G.


HSUPA & HSOPA


Masih dalam keluarga High Speed Packet Access, HSUPA merupakan kebalikan dari HSDPA. Kalau HSDPA merupakan proses downlink, alias menurunkan data dari server ke dalam perangkat (download), HSUPA merupakan High Speed Uplink Packet Access. Yakni data yang ada di dalam hape di naikkan ke server (upload). Salah satu contoh uplink pada kehidupan berteknologi adalah memelihara blog alias situs pribadi.


Berbagai file terbaru semacam foto, tulisan, atau musik harus selalu di-update untuk menjaga situs pribadi tersebut tetap up to date. Nah, proses memasukkan file-file tersebut ke dalam server sang penyedia jasa blog-lah yang dimaksud dengan uplink. Karena proses tersebut memerlukan jalur yang berbeda, kemampuan HSUPA masih lebih rendah dari apa yang ditawarkan HSDPA. Peak rate hanya ada di kisaran 5,76 megabyte perdetik. Sedangkan HSOPA merupakan singkatan dari High Speed OFDM Packet Access. Anggota keluarga HSPA yang satu ini merupakan yang terhebat. Sebab teknologi ini mampu berlari pada kecepatan 100 megabyte per detik untuk downlink dan 50 megabyte per detik untuk uplink. Hanya saja, teknologi yang berpotensi menyaingi WiMAX ini masih dalam pengembangan.

Label:

0 komentar: